ANIMASI

ANIMASI

Rabu, 27 November 2013

Merrrrrdeka....!!!

SEJARAH SINGKAT
GERAKAN MAHASISWA NASIONAL INDONESIA


LOGO GMNI

BENDERA GMNI




Latar Belakang berdirinya GMNI
Gerakan  Mahasiswa  Nasional  Indonesia  (GMNI)  lahir  dari  hasil  proses peleburan  3  (tiga)  organisasi  kemahasiswaan  yang  memiliki  kesamaan  azas “Marhaenisme” yakni ajaran Bung Karno. Ketiga organisasi tersebut  adalah:
·        Gerakan Mahasiswa Marhaenis (GMM) yang berpusat di Jogjakarta
·        Gerakan Mahasiswa Merdeka yang berpusat di Surabaya
·         Gerakan  Mahasiswa  Demokrat  Indonesia  (GMDI)  yang  berpusat  di Jakarta
Gagasan untuk proses peleburan ketiga  organisasi mahasiswa tersebut mulai muncul,  ketika  pada  awal  bulan  September  1953,  Gerakan  Mahasiswa Demokrat Indonesia  (GMDI)  melakukan  pergantian  pengurus,  yakni  dari Dewan  Pengurus  lama  yang  dipimpin  Drs.  Sjarief  kepada  Dewan  Pengurus baru yang diketuai oleh S.M. Hadiprabowo. Dalam    rapat  pengurus  GMDI  yang  diselenggarakan  di  Gedung Proklamasi,  Jalan  Pegangsaan  Timur  56  Jakarta,  tercetus  keinginan  untuk  melakukan  fusi  terhadap  ketiga  organisasi  yang  se-azas  itu  dalam  satu wadah.  Keinginan  ini  kemudian  disampaikan  kepada  pimpinan  kedua organisasi yang lain, dan ternyata mendapat respon positif. Sebagai  tindak  lanjut,  maka  dilakukanlah  beberapa  pertemuan  antara ketiga  pimpinan  organisasi  mahasiswa  tersebut,  hingga  tercapailah kesepakatan pada pertemuan berikut yang dilakukan di rumah dinas Walikota Jakarta  Raya  (Bapak.  Soediro),  di  Jalan  Taman  Suropati,  akhirnya  dicapai beberapa kesepakatan antara lain:
Ketiga  organisasi  setuju  untuk  melakukan  fusi  wadah  (organisasi)  bersama hasil  peleburan  tiga  organisasi,  berazaskan  Marhaenisme  Ajaran  Bung Karno sepakat untuk mengadakan Kongres pertama GMNI di Surabaya. Para  pimpinan  tiga  organisasi  yang  hadir  dalam  pertemuan  ini  antara lain:
 Dari  Gerakan  Mahasiswa  Merdeka  (1.  Slamet  Djajawidjaja,  2.  Slamet
Rahardjo,  3.  Heruman),  Dari  Gerakan  Mahasiswa  Marhaenis  (1.  Wahyu
Widodo, 2. Subagio Masrukin, 3. Sri Sumantri Marto Suwignyo), Dari Gerakan
Mahasiswa  Demokrat  Indonesia  (1.  S.M.  Hadiprabowo,  2.  Djawadi
Hadipradoko, 3. Sulomo)

KONGRES I
Dengan  dukungan  dari  Bung  Karno  pada  tanggal  23  Maret  1954 dilangsungkan  Kongres  I  GMNI  di  Surabaya.  Momentum  inilah  yang kemudian  ditetapkan  sebagai  Hari  Jadi  (Dies  Natalis)  GMNI.  Hasil  daripada Kongres  I  adalah  pengesahan  nama  GMNI  sebagai  hasil  fusi  ketiga organisasi.  Penetapan  pimpinan  nasional  GMNI  dengan  M.  Hadiprabowo sebagai ketua.

KONGRES II
Dilaksanakan di Bandung pada tahun 1956 dengan hasil sebagai berikut:
Konsolidasi  internal  organisasi,  meningkatkan  kualitas  GMNI  dengan mendirikan  cabang-cabang  baru  di  seluruh  wilayah  NKRI  sebagai  ketua pimpinan nasional GMNI tetap M. Hadiprabowo.

KONGRES III
Dilaksanakan di Malang pada tahun 1959 dengan hasil sebagai berikut:
Evaluasi  pesatnya  perkembangan  cabang-cabang  GMNI  di  Jawa,  Sumatra, dan  wilayah-wilayah  lain.  Pengembangan  cabang-cabang  baru  GMNI  di seluruh  Kabupaten  /  Kota  yang  ada  perguruan  tingginya.  Perubahan manajemen  organisasi  dari  bentuk  DPP  menjadi Presidium.  Ketua Presidium adalah M. Hadiprabowo.Konferensi  Besar  GMNI  di  Kaliurang  tahun  1959 Bung  Karno  memberikan pidato  sambutan  dengan  judul “Hilangkan  Sterilitiet  dalam  Gerakan Mahasiswa !” Diteguhkannya kembali Marhaenisme sebagai asas perjuangan organisasi.

KONGRES IV
Digelar tahun 1962 di Jogjakarta, dengan hasilnya:
Peneguhan  eksistensi  organisasi  dalam  realitas  sosial  politik  dan  masalah kemasyarakatan.  Kepengurusan  Presidium  antara  lain:  Bambang  Kusnohadi (ketua), Karjono (sekjen), John Lumingkewas, Waluyo, dll.
Konferensi Besar di Jakarta 1963 Bung Karno memberikan amanat yang pada  intinya  meminta  GMNI  untuk  lebih  menegaskan  ideology Marhaenismenya. Konferensi Besar di Pontianak 1965 Kongres  V  direncanakan  berlangsung  di  Jakarta,  tetapi  batal akibat adanya GESTOK.  Untuk itu  konsolidasi  organisasi  dipindahkan  ke  Pontianak melalui forum  Konferensi Besar, dengan hasil menetapkan kerangka program perjuangan dan program aksi bagi pengabdian masyarakat.

KONGRES V
Berlangsung tahun 1969 di Salatiga. Terjadi perdebatan sengit di dalam Kongres  akibat infiltrasi  dari  rezim  penguasa  Orde  Baru.  Hasilnya: mengesahkan  kepemimpinan  nasional  GMNI  berupa  DPP  dengan  ketua Soeryadi dan Sekjen Budi Hardjono.

KONGRES VI
Dilaksanakan  tahun  1967  di  Ragunan  Jakarta  dengan  tema “pengukuhan  kembali independensi  GMNI  serta  persatuan  dan  kesatuan  dan sekaligus konsolidasi organisasi. Hasil Kongres ini adalah :
·        Penyatuan fraksi yang ada di GMNI
·        Rekonsiliasi  dengan  powersharing  untuk  mengisi  struktur kepemimpinan nasional
·        Pernyataan independensi GMNI
Pimpinan  nasional  berbentuk  Presidium  dengan  kepengurusan  sebagai berikut: Sudaryanto,  Daryatmo  Mardiyanto,  Karyanto,  Wisnu  Subroto,  Hadi Siswanto,  Rashandi  Rasjad,  Teuku  Jamli,  Viktor  S  Alagan,  Alwi  F.  AS, Emmah Mukaromah, Agung Kapakisar, Sunardi GM, Semedi.

KONGRES VII
Dilaksanakan di Medan tahun 1979, hasilnya adalah:
·        Konsolidasi organisasi dan konsolidasi ideologi secara optimal
·        Marhaenisme sebagai asas organisasi tidak boleh diubah
·        Penegasan independensi GMNI
·        Presidium  dengan  anggota:  Sutoro  SB  (Sekjen),  Daryatmo
Mardiyanto,  Lukman  Hakim,  Sudaryanto,  Kristiya  Kartika,  Karyanto Wirosuhardjo.

KONGRES VIII
Berlangsung  1983  di  Lembang,  Bandung,  dengan  pengawalan  ketat dari  aparat  keamanan.  Kepengurusan  Presidium  hasil  Kongres  ini  adalah: Amir  Sutoko  (Sekjen),  Suparlan,  Sudiman  Kadir,  Suhendar,  Sirmadji Tjondropragola, Hari Fadillah, Rafael Lami  Heruhariyoso,  Bismarck Panjaitan,Antonius Wantoro.

KONGRES IX
Berlangsung  di  Samarinda  tahun  1986.  Kepengurusan  Presidium  hasil Kongres  ini  adalah:  Kristiya  Kartika  (Ketua),  Hairul  Malik  (Sekjen),  Sudirman Kadir,  Sunggul  Sirait,  Agsu  Edi  Santoso,  I  Nyoman  Wibano,  Suparlan,  Adin Rukandi, Gerson Manurib.

KONGRES X
Berlangsung  di  Salatiga  tahun  1989.  Kepengurusan  Presidium  hasil Kongres ini adalah: Kristiya Kartika  (Ketua), Heri Wardono (Sekjen), Agsu Edi Santoso, Hendro S. Yahman, Sunggul Sirait, Ananta Wahana, Jhon A. Purba, Silvester Mbete, Hendrik Sepang.

KONGRES XI
Dilaksanakan tahun 1992 di Malang, hasilnya adalah sebagai berikut:
Adanya  format  baru  hubungan  antara  kader  GMNI  yang  tidak  boleh  lagi bersifat  formal  institusional,  tetapi  diganti  jadi  bentuk  hubungan  personal fungsional. Kepengurusan  Presidium  adalah:  Heri  Wardono  (Ketua),  Samsul  Hadi (Sekjen), Idham  Samudra Bei,  Teki  Priyanto,  Yayat T. Sumitra, Rosani Projo, Yori Rawung, Herdiyanto, Firmansyah.

KONGRES XII
Diadakan di Denpasar tahun 1996. Hasilnya adalah:
Perubahan  pembukaan  Anggaran  Dasar  dengan  memasukkan “Sosialis  Religius” “Nasionalis  Religius”“Progresive klausul  dan Revolusioner”
.Menolak  calon  tunggal  presiden  RI,  penghapusan  program  penataran  P4, reformasi politik ekonomi RI. Kepengurusan  Presidium  terdiri dari: Ayi Vivananda(Ketua), A. Baskara (Sekjen),  Agus  Sudjiatmiko,  Abidin  Fikri,  Arif  Wibowo,  IGN  Alit  Kelakan, Deddy  Hermawan,  Sahala  PL  Tobing,  Rudita  Hartono,  Hiranimus  Abi,  Yudi Ardiwilaga, Viktus Murin.
KONGRES XIII
Terjadi  perpecahan  dalam  Kongres  XIII.  Sebagian  ada  yang menyelenggarakan  Kongres  di  Kupang  pada  Oktober  1999.  Sebagian  lagi menggelar Kongres Luar Biasa (KLB) di Semarang. Presidium  hasil  Kongres  Kupang  adalah:  Bambang  Romada,  Viktus Murin,  Arif  Fadilla,  Aleidon  Nainggolan,  Haryanto  Kiswo,  Klementinus  R. Sakri,  Kristantyo  Wisnu  Broto,  Robby  R  F  Repi,  R.S.  Hayadi,  Renne Kembuan, Wahyuni Refi, Yusuf Blegur, Yori Yapani. Sementara  itu  Presidium  hasil  Kongres  Luar  Biasa  di  Semarang  pada Februari  2001  adalah  sebagai  berikut:  Sony  T.  Danaparamita  (Sekjen), Hatmadi,  Sidik  Dwi  Nugroho,  Sholi  Saputra,  Endras  Puji  Yuwono,  Purwanto, Susilo  Eko  Prayitno,  Tonisong  Ginting,  Donny  Tri  Istiqomah,  Andre  WP, Abdullah Sani, Bambang Nugroho, I Gede Budiatmika.

KONGRES XIV
Barisan  hasil  Kongres  Kupang  meneruskan  Kongres  XIV  di  Manado dengan hasil kepengurusan Presidium  sebagai berikut: Wahyuni Refi (Ketua), Donny  Lumingas  (Sekjen),  Achmad  Suhawi,  Marchelino  Paliama,  Ade  Reza Hariyadi,  Hendrikus  Ch  Ata  Palla,  Yos Dapa  Bili,  Hendri  Alma Wijaya,  Moch. Yasir  Sani,  Haryanto  Kiswo,  Jan  Prince  Permata,  Eddy  Mujahidin,  Ragil Khresnawati, Heard Runtuwene, Nyoman Ray. Sementara itu barisan hasil KLB Semarang meneruskan Kongres XIV di Medan,  dengan  hasil kepengurusan sebagai  berikut:  Sonny T.  Danaparamita (Sekjen),  Andri,  Dwi  Putro,  Erwin  Endaryanta,  Fitroh  Nurwijoyo  Legowo, Mangasai Tua Purba, Monang Tambunan, Alvian Yusuf Feoh, Abdul Hafid.

KONGRES XV (KONGRES PERSATUAN)
Dilaksanakan  pada  tahun 2006  di Pangkal  Pinang, Propinsi  Kepulauan Bangka Belitung, dengan  penyatuan  dua  barisan  yang ada di GMNI,  hasilnya adalah sebagai berikut:
·        Penetapan AD/ART baru GMNI
·        Penetapan silabus kaderisasi dan GBPP GMNI
·        Hasil  kepengurusan  Presidium  dipimpin  oleh  Deddy  Rachmadi sebagai  Ketua  dan  Rendra  Falentino  Simbolon  sebagai  Sekretari Jenderal.

KONGRES XVI
Berlangsung  di  Wisma  Kinasih  Bogor  pada  Desember  2008,  hasilnya adalah:  Penyempurnaan  AD/ART  dan  GBPP  GMNI,  Bentuk  pimpinan nasional  adalah  Presidium  dengan  Ketua  Rendra  Falentino  Simbolon  dan Sekretaris  Jenderal  Cokro  Wibowo  Sumarsono,  Penegasan  sikap  politik
sebagai berikut:
·        Pernyataan untuk kembali ke UUD 1945 yang asli
·        Mendesak segera dilaksanakannya Reforma Agraria
·        Menolak hutang luar negeri dalam bentuk apapun
·        Cabut UU  Badan  Hukum Pendidikan,  UU  Pornografi  dan  Pornoaksi serta UU Penanaman Modal
·        Nasionalisasi  sepenuhnya  aset-aset  yang  menyangkut  hajat  hidup orang banyak sesuai dengan amanat UUD 1945.


KONGRES XVII
Kongres  XVII  dilaksanakan  pada  tanggal  21-28  Maret  2011  di Balikpapan, Kalimantan Timur, Kongres tersebut dibuka oleh Menteri Pemuda dan  Olahraga  RI,  Andy  Malaranggeng  dan  dihadiri  oleh  PPPA  GMNI  dan beberapa  tokoh  nasional  untuk  memberikan  sambutan  dan  ceramah  bagi peserta  Kongres  XVII,  diantaranya  :  Dr.  Soekarwo  (Gubernur  Jatim),  Drs. Awang  Farouk  (Gubernur  Kaltim),  Drs  Achmad  Basarah  (DPR  RI),  Walikota Balikpapan, Staf Kementrian Pertahanan  RI, Prabowo  Subianto, Surya  Paloh dll.
Proses  dialektika  dan  dinamika  dalam  forum  Kongres  XVII  sangatlah demokratis,  sehingga  menegaskan  kepada  kepemimpinan  Presidium  berikut untuk  melakukan  pembenahanterhadap  sistem  keorganisasian,  diantaranya penyeragaman  sistem  administrasi  organisasi  secara  struktural, penyempurnaan  silabus  kaderisasi  dan  pembentukan  cabang-cabang  secara nasional.
Kepemimpinan Presidium hasil Kongres XVII adalah sebagai berikut :
Twedy  Noviady  Ginting  (Ketua/Sumedang),  Saiful  Anam (Sekjend/Pamekasan),  Wilhelmus  W  Hadir  (Ende),  Markus  L  Wantania (Manado),  Heri  Bernad  (Purwokerto),  Elvis  Z  Watubun  (Ambon),  Edy  Wijaya (Medan),  Hariyadi  (Bogor),  Iman  Munandar  (Pekanbaru),  Fereddy (Balikpapan),  Faradian  Ardiani  (Malang  Raya),  Aren  Frima  (Lubuklinggau), dan Asef Saefullah (Cirebon).

Penegasan sikap politik  Kongres XVII  adalah sebagai berikut :
1.      Cabut Undang-Undang tentang Diskriminasi Ahmadiyah
2.       Nasionalisasi aset-aset Negara sesuai pasal 33 UUD 1945
3.      Mendesak  pemerintah  untuk  segera  menetapkan  batas-batas  wilayah Negara  terutama  pulau-pulau  terluar  dan  memberi  nama  pulau-pulau yang belum diberi nama
4.      Mendesak  pemerintah  untuk  segera  merevisi  UU  penanaman  modal asing yang tidak berpihak kepada kepentingan marhaen
5.      Merevisi UU mineral dan pertambangan (MINERBA)
6.      Menegakan nilai-nilai Pancasila, Kebhinekaan, Keutuhan NKRI dan UUD 1945 secara konsisten
7.      Jalankan reforma agraria secara menyeluruh sesuai UU PA No. 5 Tahun 1960
8.      Menghapus dan menolak utang luar negeri
9.      Mendorong  terselesaikannya  bencana  lumpur  lapindo  dan  mendesak pemerintah  menentukan  status  bahwa  lumpur  lapindo  merupakan kesalahan manusia
10. Mendorong reformasi birokrasi, praktek hukum, ekonomi  dan  politik yang terbebas dari praktek praktek KKN
11.  Menuntut perlindungan terhadap TKI
12. Menolak  segala  bentuk  liberalisasi  dan  privatisasi  system  pendidikan  di Indonesia dan merealisasikan anggaran 20%
13. Mendorong  pemerintah  pusat  dan  daerah  untuk  mengoptimalkan  SDA yang seimbang, termasuk di bidang kelautan secara berkelanjutan
14. Mengembalikan UUD 1945 ke aslinya
15. Melestarikan,  menumbuhkan  dan  mematenkan  budaya  dan  aset –aset budaya lokal di semua daerah
16. Mendorong pemerintah  untuk  menetapkan  tanggal 1 (satu)  Juni  sebagai Hari libur Nasional
17. Mendorong  terciptanya  pemerataan  dan  penyesuaian  antara  daerah kontinental dan daerah kepulauan di Indonesia
18. Menolak  kooptasi  alumni  dan  menegakkan  indenpedensi  GMNI  secara konsisten dari para elit-elit politik
19. Merevisi UU tentang Pornografi dan Pornoaksi
20. Revisi  UU  Otonomi  Daerah  (OTDA)  yang  menjamin  hubungan  pusat daerah yang berkeadilan
21. Mendorong  terciptanya  sistem ekonomi kerakyatan  dengan  memperkuat basis  produksi rakyat (Pertanian  dan  Kelautan) serta  upaya proteksi dari Negara
22. Mendesak  pemerintah  untuk  segera  menuntaskan  kasus  Bank  Century, penegakan  supremasi  hukum  dan  menuntaskan  mafia-mafia  hukum  di Indonesia
23. Tolak rezim neoliberalisme dan turunkan SBY-Budiono
24. Pengawalan, penuntasan kasus-kasus HAM
25. Mendorong  lahirnya  UU  yang  menjamin  kesejahteraan  kaum  buruh  dan revisi UU No. 13 Tahun 2003
26. Pengawalan UU Keterbukaan Informasi public
27. Mendesak  DPR  RI untuk  segera  merealisasikan regulasi  yang  mengatur tentang eksistensi Provinsi Kepulauan
28. Mendorong pemerintah untuk melahirkan UU  kesehatan  yang gratis bagi kaum marhaen
29. Mendorong  pemerintah  untuk  merumuskan  kurikulum  Pendidikan  yang berwawasan kebangsaan
30. Mendesak  pemerintah  untuk  menginvestigasi  masalah  eksploitasi  hutan dan laut yang tidak berpihak kepada kaum marhaen.

Sumber penulisan meliputi arsip kesekretariatan dan informasi dari berbagai pihak, sehingga apabila  ada  kekurangan  dan  kesalahan  penulisan  nama  dan  lain-lain.  Kami  mohon  maaf dan menerima saran dan kritik untuk dilakukan perbaikan semestinya.

Merrrrrrrrrrrdeka....!!!

GMNI Jaya...............!!!

Marhaen menang.....!!!
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar